Cangkring (E. fusca)

on

Cangkring adalah tanaman pepohonan yang berdaun rontok dengan tinggi dapat mencapai 10-20 m, berbatang kayu, berwarna keabuan dengan permukaan kulit kasar dengan cabang yang jarang yang dilengkapi dengan duri tempel. Cangkring memiliki daun majemuk bertulang daun menyirip berwarna hijau serta memiliki bunga majemuk berwarna jingga muda yang terletak di ujung batang.

Kandungan Kimia Cangkring

Tiap 100 gram daun basah mengandung 60 kalori; 81,5 g air; 4,6 g protein; 0,8 g lemak; 11,7 g karbohidrat total; 4,1 g serat; 1,4 g abu; 57 mg kalsium; 40 mg phosphor; 1,8 mg Fe; 2300 mg setara dengan beta karoten; 0,24 mg thiamin; 0,17 mg riboflavin; 6,54 ng niasin, 78 mg asam askorbat (Duke, 1983). Daun, kulit batang, dan akarnya mengandung saponin dan polifenol, sedangkan akarnya juga mengandung flavonoid (Hutapea, 1994). Ekstrak etanol daun dan kulit batang cangkring mengandung flavonoid, alkaloid dan terpenoid (Meiyanto et al., 2003). Ekstrak kloroform daun cangkring (E. fusca) mengandung golongan senyawa flavonoid, fenolik, dan terpenoid, efluen nomor 30 mengandung flavonoid dan fenolik (Wahyuningsih, 2004). Fraksi nomor 30 hasil fraksinasi ekstrak metanol daun cangkring (E. fusca) mengandung alkaloid, saponin dan terpenoid (Rahmawati, 2004).

Manfaat Tumbuhan

Tumbuhan E. fusca telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Daunnya digunakan untuk mengobati gabag, cacar air, frambusia, gatal-gatal, ASI kurang lancar (Mardisiswojo and Rajakmangunsudarso, 1985). Kayu setelah diremas-remas dapat diminum sebagai obat kencing darah atau kencing nanah (Heyne, 1987). Rebusan akar dan atau kulit batang dapat digunakan sebagai obat beri-beri (Heyne, 1987 and Hutapea, 1994).

Literatur :

Heyne, K., 1987, Tanaman Berguna Indonesia, jilid II, cetakan pertama,diterjemahkan oleh         Badan Litbang Departemen Kehutanan, Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta, p. 1029