Biji Bengkoang

on

Bengkoang biasanya  dikenal adalah umbinya, karena kandungan vitamin dan gizi yang cukup tinggi. Kandungan utama bengkoang adalah air, yaitu 85 gram per 100 gram umbi.  Kadar energinya yang cukup rendah  (55 kkal/100 g) memungkinkan bengkoang untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan yang baik bagi pelaksana diet rendah kalori dan penderita diabetes melitus. Kandungan vitamin C yang cukup tinggi (20 mg/100 g), memungkinkan bengkoang digunakan sebagai sumber antioksidan yang potensial untuk menangkal serangan radikal bebas penyebab kanker dan penyakit degeneratif.
            Namun, siapa sangka biji bengkoang yang selama ini tak banyak dikenal justru memiliki manfaat sebagai pestisida nabati. Biji bengkoang mengandung zat-zat seperti rotenone, pachyrrhizid, pachyrrhizine, saponin, dan lain-lain yang bekerja secara sinergis sebagai insektisida dan juga akarisida. OPT sasaran pestisida biji bengkoang meliputi :  Croccidolomia binotalis, Aphis fabae, A.craccivora, Bombix mori, Dysdercus megalopygus, Epilachna varivestis, Myzus persicae, Nezara viridula, Plutella xylostella dan Spodoptera litura. Serbuk atau tepung biji bengkoang dapat digunakan untuk melindungi benih tanaman dari serangan hama gudang. Serangga yang teracuni mati kelaparan yang disebabkan oleh kelumpuhan alat-alat mulut.
Cara membuat  :
Biji dan daun dicuci, ditumbuk, ekstraknya diencerkan dengan aquades. Alkohol dan petroleum eter dapat digunakan sebagai pelarut. Aplikasi dilakukan dengan penghembusan atau penyemprotan ke bagian tanaman.
Ekstrak biji bengkoang bersifat toksik terhadap larva ulat krop dengan LC50 : 11,48 %. Tingkat kematian terendah 13 % pada 4 hari setelah perlakuan dengan konsentrasi 12,5 % (125 gram per liter air) (Soekarto, et al, 1999).
(cara lain Ekstrak biji bengkoang dibuat dengan cara menyaring campuran tepung biji bengkoang dengan pelarut air, etanol 96%, atau metanol 96%)